Tabanan – Dalam rangka implementasi Program Kerja KONI Kabupaten Tabanan Tahun 2026 sekaligus meningkatkan kualitas organisasi dan sumber daya manusia (SDM) cabang olahraga, KONI Kabupaten Tabanan menggelar Workshop Manajemen Organisasi dan Penguatan Mental Cabang Olahraga Tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung pada 8 hingga 9 Mei 2026 bertempat di GOR Debes Utara, Tabanan.
Workshop ini diikuti sebanyak 92 peserta yang berasal dari 46 cabang olahraga (cabor) di bawah naungan KONI Kabupaten Tabanan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pembinaan organisasi olahraga yang profesional, modern, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus mendukung visi Pemerintah Kabupaten Tabanan menuju Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul, dan Madani.
Hari pertama workshop secara resmi dibuka oleh Ketua KONI Kabupaten Tabanan, I Made Nurbawa, S.E. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas organisasi olahraga agar mampu berjalan lebih efektif dan profesional.
Menurutnya, keberhasilan pembinaan olahraga tidak hanya ditentukan oleh prestasi atlet di lapangan, tetapi juga dipengaruhi oleh kualitas tata kelola organisasi masing-masing cabang olahraga.
“Melalui workshop ini kami berharap seluruh pengurus cabang olahraga mampu meningkatkan kapasitas organisasi, memperkuat mental kepengurusan, serta mampu mengikuti perkembangan digitalisasi dalam tata kelola administrasi maupun manajemen organisasi olahraga,” ujar Nurbawa.
Ia juga menambahkan bahwa KONI Tabanan terus berkomitmen melakukan pembinaan secara berkelanjutan guna menciptakan organisasi olahraga yang solid dan mampu melahirkan prestasi bagi Kabupaten Tabanan.
Pada sesi materi hari pertama, peserta mendapatkan pembekalan mengenai Manajemen Organisasi Berbasis Aplikasi yang disampaikan oleh narasumber I Gusti Putu Winiantara, S.Sos selaku Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tabanan.
Dalam pemaparannya, Winiantara mengangkat tema “Tata Kelola Olahraga Berbasis Digital pada KONI Tabanan” yang menitikberatkan pada konsep tata kelola informasi atlet, pelatih, wasit, dan pengurus cabang olahraga berbasis sistem digital. Ia menegaskan bahwa digitalisasi menjadi kebutuhan penting dalam mendukung tata kelola olahraga yang modern dan berkelanjutan.
Menurutnya, sejumlah permasalahan masih kerap ditemui dalam pengelolaan organisasi olahraga saat ini, seperti data manual yang tersebar, risiko kehilangan data, data ganda, mutasi dan pembajakan atlet, hingga sulitnya melakukan monitoring prestasi atlet secara menyeluruh.
Karena itu, digitalisasi dinilai sangat diperlukan untuk meningkatkan validitas data, transparansi organisasi, efisiensi administrasi, hingga mempermudah pengambilan kebijakan berbasis data. Selain itu, sistem digital juga dapat menjadi histori prestasi olahraga yang terdokumentasi dengan baik.
Ia menjelaskan, konsep sistem informasi yang ditawarkan merupakan sistem sederhana namun kaya fungsi dengan fokus pada dokumentasi, validasi, dan pengembangan bertahap. Adapun modul utama yang dirancang meliputi database atlet, database pelatih, database wasit, database pengurus cabang olahraga, serta dashboard statistik olahraga.
“Pengembangan sistem informasi olahraga dilakukan secara bertahap, dimulai dari fondasi yang sederhana namun kaya fungsi dan berkelanjutan. Kita tidak perlu langsung membangun sistem yang besar dan rumit,” jelas Winiantara di hadapan peserta workshop.
Lebih lanjut, ia memaparkan berbagai keuntungan digitalisasi, di antaranya database yang terpusat, monitoring yang lebih cepat, sistem yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan, efisiensi pelaporan, hingga tersedianya arsip sejarah olahraga daerah secara digital.
Meski demikian, ia juga mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang harus dihadapi, seperti kesiapan SDM teknologi, keterbatasan anggaran, keamanan data, perubahan budaya kerja, serta kebutuhan infrastruktur server yang memadai.
Dalam workshop tersebut, Winiantara turut memaparkan roadmap pengembangan digitalisasi olahraga selama lima tahun ke depan, dimulai dari digitalisasi data dasar pada tahun pertama, integrasi prestasi dan dokumentasi pada tahun kedua, pengembangan sistem event dan pelaporan pada tahun ketiga, dashboard analitik olahraga pada tahun keempat, hingga pembentukan Sport Intelligence System pada tahun kelima.
“Digitalisasi bukan sekadar aplikasi, melainkan fondasi tata kelola olahraga modern dan berkelanjutan,” tegasnya.
Para peserta tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Selain pemaparan materi, workshop juga diisi dengan sesi diskusi dan tanya jawab terkait tantangan organisasi cabang olahraga di era digital.
Melalui kegiatan ini, KONI Kabupaten Tabanan berharap seluruh cabang olahraga mampu memperkuat tata kelola organisasi sekaligus meningkatkan kualitas SDM sehingga pembinaan olahraga di Kabupaten Tabanan dapat berjalan lebih optimal dan berprestasi.